Hidup.
Andai seperti berjalan pun sudah jauh. tapi seberapa jauh? berapa lama lagi ? Sebuah rahasia tentang titik akhir yang tidak tahu dimana, kapan tercapai bahkan pada kondisi apa pencapaian itu.
Setiap langkah ternyata sebuah keniscayaan atas hilangnya waktu yang tak kembali.
Beberapa dari sekian ribu langkah mungkin berada dalam gelap dan tak tentu arah. Gelap yang membutakan mata dari arah yang pernah menjadi mimpi di masa lalu. gelap kadang membuat kita tidak tahu kalau ternyata arah telah bergeser. Bagaimana menemukan dalam kegelapan itu ada sisi lain yang menerbitkan terang dalam batin? Terang yang memberikan gambaran jelas tentang fitrah dan nafsu terpisah bagai air dan minyak.
Setiap langkah hidup tetap menjadi keniscayaan atas hilangnya waktu yang tak kembali.
langkah ternyata selalu menghadapkan pada pilihan yang harus dipilih. Harus dipilih? Bahkan tidak memilih pun juga sebuah pilihan. kebenaran mungkin menjadi harapan ketika pilihan telah dijatuhkan. kalaupun salah, bagaimana kebenaran itu tetap terbit dari sebuah kesalahan.
Dari waktu yang tidak terulang.
Pada beberapa kondisi, langkah tak terasa hingga ribuan dan terlalui tanpa arti, tanpa makna, bahkan tanpa kesan. apakah titik nol itu harus ditanam di langkah ke sekian ribu dan menjadi awal dari sekian juta langkah baru yang mungkin tersisa? Bagaimana hari kemarin? Apakah kemarin itu mimpi? Apakah 1 detik yang baru berlalu itu juga mimpi? Bagaimana dengan impian yang dulu? apa impian itu bisa menjadi asa yang diyakini bisa teraih? sehingga kita mampu memaknai yang sudah terlalui itu adalah fase untuk meraih sebuah asa meski sulit mengatakan kapan harus berhenti.
Gusti Allah,
Sedemikian bebasnya batin ini engkau biarkan menggeliat untuk mencari . tapi mencari apa? Bagaimana aku harus membedakan ini sebagai fitrah atau nafsu? ketika kesempatan itu KAU datangkan untuk memberi bagi yang sulit, Apa aku harus memahami ketika memberi itu adalah fitrah untuk saling berbagi? Tapi kenapa aku masih berharap balasan dariMU? Apakah ENGKAU peduli dengan perdagangan ini, Sedangkan ketika tanganku tetap menggenggam sendiri semua pemberianMU pun nafas ini masih ENGKAU biarkan mengalir.
Apakah ini berarti bahwa aku orang yang belum bisa memaknai fitrah ?
kenapa pemberianku harus berbalas?
Ternyata aku belum bisa.